Mendefinisikan kegagalan

Mendefinisikan kegagalan

Setiap kita memiliki pendapat kita sendiri untuk mendefinisikan kegagalan.
Ada yang menafsirkan kegagalan dengan ketidaksesuaian antara usaha yang ditoreh dan hasil yang diperoleh.
Kegagalan diidentikan dengan kekecewaan atas apa yang didapat.
Ada juga yang mengidentikkan kegagalan sebagai teguran, cobaan, atau bahkan tamparan.
Seseorang pernah menasehati saya tentang definisi saya soal kegagalan, awalnya sama saja dengan orang pada umumnya. Saya mengartikan kegagalan sebagai sandungan, cobaan, semua penuh kemarahan dan kekecewaan.
"Kamu sudah usaha semaksimal yang kamu mampu? Belum ? Bahkan sebelum tau hasilnya, kamu telah gagal dalam prosesnya" Saya tercenung, saya seringkali melupakan hal itu; Proses. Kita sering terjebak, kita menuntut hasil tapi kita melupakan proses. Justru inti dari pendewasaan adalah prosesnya.
"Jangan begitu lah, ketika semua yang kamu dapat tidak sesuai bukan berarti kamu gagal. Bisa jadi memang itu yang terbaik untukmu, bisa jadi Allah punya rencana yang lebih indah untuk mu. Tugas kita itu sebatas berusaha, hingga usaha berakhir masanya. Kita gagal saat kita berhenti berusaha, bukan ketika kita tidak mendapat apa yang kita damba". Saya tertegun, saya melalaikan itu. Definisi saya soal kegagalan sepertinya justru menghancurkan mental saya secara sendirinya. Menyalahkan keadaan sama sekali bukan jalan keluarnya, saatnya melihat apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki diri kita. Bukan hanya menyalahkan lingkungan kita.
Semenjak itu, saya tidak menganggap hasil yang tidak saya sukai adalah kegagalan.
Saat ini, bagi saya, kegagalan adalah saat saya berhenti percaya, bahwa setelah usaha dan doa pasti ada rencana yang sesuai untuk saya.
Kegagalan adalah saat kita berhenti percaya, bahwa usaha dan doa tidak akan mengkhianati kita.

0 komentar :

Posting Komentar